Ivan Zubeil Baiezt dari angkatan 2022 dengan judul Tesis “Redesain Masjid Jami Tangkuban Parahu Setiabudi Jakarta dengan Pendekatan Inklusif”, dengan pembahas Dr. Ir. Elysa Wulandari, M.T. serta Pembimbing Prof. Dr. Asep Yudi Permana, S.Pd., M.Des. dan Ilhamdaniah, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D. Dibahas pada Sidang Tesis tahap 2 Program Studi Arsitektur Program Magister UPI pada tanggal 24 April 2024.

“Masjid merupakan salah satu bangunan publik yang intensif digunakan dan penggunanya dari berbagai kalangan dengan beragam latar belakang dan keterbatasan, oleh karenanya desain masjid sebaiknya dirancang dengan memfasilitasi beragam kebutuhan ibadah jemaah” itulah menjadi dasar Ivan dalam penulisan tesis ini.

Ivan memilih Masjid Jami Tangkuban Perahu Setiabudi Jakarta sebagai objek penelitian dalam penulisan tesisnya, karena masjid ini merupakan masjid yang dipilih menjadi studi kasus penelitian untuk perancangan masjid inklusif, mengingat berdasarkan observasi awal masih ditemukan berbagai kendala beraktivitas penunjang ibadah bagi Jemaah yang berusia lansia, berkebutuhan khusus, perempuan, maupun anak-anak.
Berdasarkan studi literatur terkait desain masjid yang ditemukan Ivan, penelitian akan isu inklusif pada bangunan masjid dan khususnya masjid di Indonesia masih minim. Penelitian yang dilakukan Ivan bertujuan untuk merancang ulang ruang dalam, lansekap masjid dan aspek-aspek arsitektural yang menjadi pertimbangan agar dapat mengakomodasi kebutuhan fisik dan inklusif sebagai rencana ke depan, yang penting untuk menjadi preseden kedepan.

Ivan menggunakan pendekatan riset secara kualitatif untuk penelitian pada Masjid Jami Tangkuban Perahu Setiabudi ini serta metode perancangannya yaitu menggunakan metode konsep kanonik yang berdasarkan pada aturan-aturan serta kaidah-kaidah yang berkaitan dengan parameter inklusif.
Hasil penelitian Ivan menunjukan adanya pencampuran dalam sirkulasi vertikal, kebutuhan akan fasilitas ramp, tidak ada nya fasilitas wudu, area salat dan elemen bantuan untuk berbagai tingkatan usia dan disabilitas. Selain itu untuk kebutuhan sekunder inklusif pada masjid, tidak adanya fasilitas ruang ibu menyusui, ruang bermain anak, ruang salat ayah dan anak, serta ruang memandikan dan mengkafani jenasah, serta ruang multifungsi.
Redesain pada masjid berupa penambahan fungsi ruang, penegasan pembagian ruang dan penambahan fasilitas pendukung untuk memastikan inklusivitas yang lebih baik dalam penggunaan fasilitas tersebut.Kesimpulan dari perancangan ini terjadi secara spasial dan bentuk tanpa merubah karakter awal sebagai arsitektur modern tropis.

