Anry Supriady dari angkatan 2021 dengan judul Tesis “Konsep Healing Environment pada Gedung Infeksius Rumah Sakit Paru Dr. H.A. Rotinsulu” dibahas oleh Ir. Ilhamdaniah, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D. dan Dr. Eng. Beta Paramita, S.T., M.T. serta pembimbing Prof. Dr. Mokh. Syaom Barliana, M.Pd., M.T. dan Dr. Ir. Nuryanto, S.Pd., M.T. Dibahas pada Seminar Proposal Tesis Program Studi Arsitektur (S-2) UPI pada tanggal 6 Agustus 2024 secara daring.

Anry memiliki dasar pemikiran yang melatar belakangi dalam penelitian tesisnya ini, yang Anry temukan adalah penerapan konsep healing environment di rumah sakit sudah banyak dilakukan, namun penerapan konsep healing environment pada gedung infeksius belum ada, padahal pasien yang dirawat di gedung infeksius harus diisolasi karena organisme yang terinfeksi adalah sumber utama dari penyebaran infeksi yang melepaskan sejumlah besar mikroorganisme patogen.
Anry memiliki tujuan dari penelitiannya:
- Menganalisis kondisi lingkungan rumah sakit dan pasien infeksius ditinjau dari konsep penerapan healing environment;
- Menganalisis pengaruh kondisi lingkungan rumah sakit terhadap tingkat penyembuhan pasien infeksius;
- Menghasilkan desain rancangan bangunan gedung perawatan infeksius berbasis konsep healing environment.

Penelitian yang dilakukan Anry menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Untuk meneliti objek, suatu kondisi, sekelompok manusia, atau fenomena lainnya dengan kondisi alamiah atau riil (tanpa situasi eksperimen) untuk membuat gambaran umum yang sistematis atau deskripsi rinci yang faktual dan akurat.
Anry pun menggunakan pendekatan desain dengan metode heuristic yakni pertimbangan lingkungan dan pengalaman imajiner dari arsitek lebih mengambil peranan penting selain inspirasi arsitektur preseden yang sudah ada dalam hal gedung perawatan infeksius.

Anry memilih lokasi untuk peneilitianya yaitu pada Rumah Sakit Paru Dr. HA. Rotinsulu Bandung, yang berada di Jalan Bukit Jarian No. 40, Hegarmanah Kecamatan Cidadap Kota Bandung, Jawa Barat. Lokasi lahan penelitian berada di lahan berkontur dari elevasi +804 MDPL sampai +810 MDPL. Posisi rumah sakit berada di dataran tinggi memberikan dampak positif, karena memiliki view alam yang indah yang tidak dimiliki pada gedung lain di dataran rendah. Namun, kekurangan pada lokasi penelitian ini adalah terbatasnya pengembangan lahan ke arah horisontal dikarenakan sudah padat oleh bangunan.

