Ivan Zubeil Baiezt dari angkatan 2022 dengan judul Tesis “Redesain Masjid Jami Tangkuban Parahu Setiabudi Jakarta dengan Pendekatan Inklusif”, dengan pembahas Dr. Ir. Elysa Wulandari, M.T. serta Pembimbing Prof. Dr. Asep Yudi Permana, S.Pd., M.Des. dan Ilhamdaniah, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D. Dibahas pada Sidang Tesis tahap 1 Program Studi Arsitektur Program Magister UPI pada tanggal 19 April 2024.

Data yang di ambil oleh Ivan berdasarkan parameter Peraturan Menteri PUPR No 14/PRT/M/2017 tentang persyaratan kemudahan bangunan gedung, yang mengatur persyaratan untuk fasilitas inklusif, fasilitas penyandang dan prinsip-prinsip penerapan arsitektur inklusif lainnya yang diturunkan dari tujuh prinsip universal desain. Hasilnya dievaluasi melalui analisis kualitatif berdasarkan data yang dikumpulkan selama penelitian. Sedikit justifikasi Ivan melakukan studi eksplorasi awal dari data lokasi. Secara garis besar didapatkan hasil, dimana secara gender Jemaah pengguna untuk pelaksanaan salat wajib dan salat sunnah rawatib yang waktunya berdekatan terdiri atas 80% laki-laki yang mendominasi dan 20% perempuan. Sementara dari faktor usia untuk pelaksanaan salat wajib dan salat sunnah rawatib yang waktunya berdekatan, Jemaah pengguna di dominasi oleh usia produktif sekitar 45%, anak-anak sebesar 7%, remaja 18%, lansia sebesar 29% dan penyandang sebesar 1%. dari faktor persyaratan desain berdasarkan Peraturan Menteri PUPR No 14/PRT/M/2017 dan tujuh prinsip universal desain. Dari hasil penelitian yang dilakukan Ivan, penting untuk memastikan bahwa semua orang, termasuk penyandang disabilitas, merasa diterima dan dihargai di tempat ibadah, sangat penting untuk merencanakan masjid dengan pendekatan inklusif. Kualitas desain dinilai berdasarkan kemampuan untuk mencapai ruang lingkup inklusif. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai Islam tentang pentingnya memperlakukan setiap orang dengan hormat dan martabat. Dengan membuat akses yang mudah bagi penyandang disabilitas dan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan, masjid yang dirancang dengan pendekatan inklusif menunjukkan komitmen mereka terhadap nilai-nilai tersebut.

Ivan menggunakan metode riset perancangan kualitatif studi kasus dan metode kreatif desain kanonik, yang melihat proses riset dan perancangan sebagai satu kesatuan tahapan yang di mulai dari proses me-review eksisting menggunakan pendekatan peraturan yang berlaku di Indonesia. Sehingga proses penerapan aturan tersebut menjadi proses kreatif desain, yang pada akhirnya hal tersebut merupakan proses merancang ruang dalam sebuah masjid agar dapat mengakomodasi kebutuhan fisik dan sosial berbagai kelompok masyarakat, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, lansia, perempuan, anak-anak, dan individu dari berbagai latar belakang sosial. Ruang publik yang setara akan : gender, dimana masjid terbuka untuk berbagai kalangan umat, baik laki-laki maupun perempuan; usia, yakni sesuai dengan perkembangan zaman termasuk mengakomodasi berbagai kalangan, dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa sampai lansia ;penyandang sesuai fiqihnya, dimana yang terwadahi adalah penyandang fisik dan sensorik memiliki kecakapan hukum (ahliyadul wujub) dan kecakapan bertindak (ahliyadul ada’) ; ras dalam ranah mengakomodir nilai-nilai kedaerahan, dengan memperhatikan kebutuhan lokal bergaya arsitektur Islami dan waktu , menjadi batasan perancangan redesain Masjid Jami Tangkuban Perahu Setiabudi Jakarta.
Masjid Jami Tangkuban Perahu Setiabudi Jakarta adalah lokasi yang di pilih oleh Ivan sebagai lokasi penelitian, terdapat di wilayah Jakarta Selatan merupakan Kota Administrasi di bagian Selatan DKI Jakarta yang pusat pemerintahannya berada di Kebayoran Baru, yaitu tepatnya berada pada kecamatan Setiabudi yang memiliki luas lahan sebesar 8,85 km2 dan kelurahan Guntur yang memiliki luas sebesar 0,65 km2. Posisi Masjid Jami Tangkuban Perahu Setiabudi Jakarta berada pada koordinat: 107 38’14,272” E (BT) dan 6 58’59,365” S (LS).

Menurut Ivan, arsitektur masjid dengan pendekatan inklusif mencerminkan upaya untuk membuat desain yang memenuhi kebutuhan dan kenyamanan setiap anggota Masyarakat tanpa memperhitungkan perbedaan sosial, ekonomi, atau fisik. Beberapa titik penting dalam sejarah pendekatan ini termasuk pemahaman tentang berbagai aspek kehidupan masyarakat muslim. Isometri Lantai Mezzanin memperlihatkan denah isometri bagian dalam Masjid Jami Tangkuban Perahu.

Menurut pengurus DKM Masjid Tangkuban Perahu setiap tahun jumlah Jemaah yang datang ke masjid mengalami peningkatan per tahunnya. Jemaah yang datang ke Masjid Jami Tangkuban Perahu Setiabudi Jakarta, sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2023 dapat dilihat pada gambar diagram berikut :

Aspek-aspek arsitektural yang perlu dipertimbangkan dalam merancang ulang masjid dengan pendekatan inklusif, sebagai bahan dalam menciptakan proses ruang ibadah yang lebih ramah dan aksesibilitas bagi semua 379 Jemaah dapat terwujudkan. Pada akhirnya penerapan pendekatan inklusif pada redesain masjid menjadi salah satu jawaban bagaimana sebuah masjid sebagai tempat peribadatan umat muslim menjadi tempat ibadah yang ramah bagi semua jamaah sebagaimana dicontohkan pada Masjidil Haram yang bukan hanya sebagai
kiblat sholat namun juga masjid yang ramah bagi semua jamaah dari seluruh dunia.
Rekomendasi ini berfungsi sebagai panduan bagi redesain masjid ini dan pengembangan layanannya untuk menerapakan prinsip desain inklusif sehingga menciptakan solusi yang dapat diakses oleh seluruh jemaah. Redesain ini bertujuan untuk memberikan manfaat secara teori maupun praktek :
- Manfaat Teoritis
Riset ini penting dilakukan, mengingat belum adanya riset mengenai inklusif dalam Masjid Jami Tangkuban Perahu Setiabudi Jakarta. Dengan banyaknya masjid yang terdapat di Jakarta, ini dapat menjadi contoh penerapan arsitektur inklusif bagi perkembangan masjid.
- Manfaat Praktis
Riset desain ini tentang redesain Masjid inklusif ini bukan hanya sebatas peningkatan estetika bangunan, melainkan sebuah usaha nyata dalam memastikan hak serta kenyamanan beribadah untuk semua kalangan masyarakat, tanpa memandang gender, disabilitas, usia, atau ras.
